Bercakap-cakap dengan Dante

There is no greater sorrow than to recall happiness in times of misery (The Divine Comedy, Dante Alighieri)

Alicia Marian Darma, remaja di kelas menulis Iwec yang saya ampu, adalah seorang pembaca buku sastra yang lahap. Bacaannya terentang dari puisi, cerpen, hingga novel. Saat ini ia sedang membaca “The Cuckoo’s Calling” karya J.K. Rowling. Beberapa minggu lalu, ia membawa “The Divine Comedy” karya Dante Alighieri versi bahasa Inggris ke kelas dan menunjukkannya ke saya. Saya menganga karena buku puisi naratif yang amat panjang itu tebalnya mencapai 900 halaman. Dan, ia membacanya hingga habis.

Saya suka menanyakan buku yang sedang dibaca oleh murid. Bukan semata-mata untuk memantau perkembangan baca mereka, tapi juga bahan pancingan saya untuk berdiskusi. Tepatnya lagi, jika buku tersebut belum saya baca, saya bisa menguliknya lebih jauh.

Selain itu, dengan mengetahui bacaan-bacaan mereka, saya jadi tahu selera juga apa yang telah mereka tampung di otak mereka. Seperti tukang gali sumur, ini peluang saya untuk membantu mengucurkan pengalaman baca dan refleksi mereka ke dalam tulisan.

Seperti Sabtu pagi yang mendung ini. Tahu Alicia suka sastra, saya menantang dia untuk bereksplorasi di ranah ini. Saya curah gagasan (brainstorming) dengan dia lewat satu pertanyaan, “Sejauh ini, buku mana yang paling berkesan bagi kamu?”

“The Divine Comedy,” jawabnya pendek. Meski sebenarnya, saya sudah bisa menerka. Karena waktu itu, ia menceritakannya dengan mata berbinar-binar. Tak pernah ia sesemangat itu berbagi kesan.

The Divine Comedy

Alicia membaca The  Divine Comedy, versi terjemahan John Ciardi.

“Cerpen pertama kamu kan realis. Yang kedua, fabel. Kak Lalu mau nantang kamu untuk bikin cerpen yang fantasi atau surealis. Gimana?”

“Hmmm … kayaknya aku akan over-thinking deh ini. Hehehe …”

Setelah ia berkisah ulang tentang The Divine Comedy, saya mengajukan pertanyaan, “Oke, Alicia. Kita berandai-andai sekarang. Main ‘what if’. Jika kamu berkesempatan bertemu dengan Dante, apa sih yang akan kalian obrolkan? Apa yang kamu mau tahu dari dia?”

“Mungkin tentang bagaimana karyanya itu bisa lahir.”

Bungkus!

Kami lanjut curah gagasan tentang unsur instrinsik dan struktur cerita. Petikan-petikan puisi dalam The Divine Comedy akan dimasukkan, kehidupan Dante juga.

Bagaimana kisah dimulai, siapa saja tokohnya, setting di mana, dialog macam apa yang terjadi, dan bagaimana akhir kisah, Alicia sedang membuat peta pikirannya.

Saya yakin, Alicia mampu. Tahun depan, ia akan hadir dengan buku kumpulan cerpennya yang bergizi, tidak hanya dari cara penulisan, tapi juga isi.

Mari nantikan bersama!

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s