Kalaupun Menulis Memoar, Bagian Mana dari Kehidupan yang Akan Saya Tulis?

Saya sedang membuat beberapa rencana di dalam kepala saya. Tidak itu saja, saya menuliskannya. Sebagai pengingat, tentu.

Buku puisi saya sedang masa penggarapan sampul. Naskahnya sendiri belum saya pilah dan pilih. Masih ada penambahan sampai jumlah tertentu yang ideal menurut saya.

Sebagaimana yang pernah saya ungkapkan, saya ingin terus berkarya. Berkarya sampai mati. Jadi, dalam perjalanan menuju kematian itu, saya terus mencicil untuk menulis. Selain buku bergenre traveling, saya juga hendak membuat karya-karya dengan genre lain, semisal: buku puisi, kumpulan cerita pendek, juga novel. Saya kerap termangu-mangu ketika membaca profil di halaman belakang sebuah buku. Bahwa selama hidupnya, si penulis telah mengeluarkan karya yang beraneka ragam. Saya juga ingin seperti itu. Perkara laris manis, itu urusan belakangan. Yang penting, karya keluar dulu.

Nah, selain buku puisi, tetiba saya juga ingin menulis memoar. Gegara saya main-main Pinterest dan menemukan sebuah poster, bagaimana menulis memoar. Saya pun menelusuri artikel di Google tentang bagaimana membuat memoar yang baik. Dan, ya saya mendapatkan cukup banyak insight menarik.

Bahwa, memoar berbeda dengan otobiografi. Memoar hanya membahas satu cuplikan kisah penting dalam hidup seseorang, sementara otobiografi menulis dari awal kehidupan sampai masa hidup si penulis kini.

Memoar yang termasuk tulisan nonfiksi juga harus dituliskan dengan hidup. Masukkan unsur emosi. Ceritakan dengan gaya fiksi biar enak dibaca. Tulis ala novel. Buat pembaca larut dalam memoar yang dibikin.

Jadi, memoar tidak sekadar memaparkan fakta-fakta kaku. Olah dengan sepiawai mungkin. Libatkan logika dan emosi. Jika ini dilakukan dengan imbang, maka pembaca pun bisa imbang dalam menerimanya. Mereka tidak hanya dikayakan dengan hal-hal yang sifatnya intelektual, tapi juga dipenuhi dengan hal-hal emosional.

Maka, belajar menjadi pencerita alias story teller adalah sebuah keharusan. Itu pula yang coba saya latihkan terus-menerus pada diri saya. Saya menulis di status Facebook, menulis di Instagram, menulis di blog. Saya belajar mengajar, yang salah satu daya pikatnya adalah bagaimana murid-murid saya mau menyimak ujaran saya. Maka, bercerita, utamanya pengalaman, saya jadikan kebiasaan. Tentu, pengalaman ini saya tarik dan perkuat dengan teori. Sehingga – itu tadi – imbang.

18033428_10155216172374304_8401399883557745663_n

Melakukan perjalanan solo secara mandiri kerap kali memberi banyak pelajaran pada saya, salah satunya ketika ke Kawah Putih ini.

Lantas, kalaupun saya menulis memoar, bagian kehidupan yang mana yang akan saya tuliskan?

Saat ini yang terlintas di benak saya adalah penggalan hidup saya sebagai perantau di Tanah Jawa. Saya merasakan banyak mengalami momen-momen penting selama belasan tahun tinggal di sini. Saya hendak jalin-menjalinkannya dengan hidup di kampung halaman saya. Saya kira, ini akan menjadi sebuah refleksi yang menarik. Minimal bagi saya sendiri sebagai penulis.

Ini upaya merekam ingatan. Merekam jejak kehidupan. Biar tidak usang dan lekang oleh masa. Semangat saya ini juga terpompa berkat mengamati kehidupan orang-orang yang jauh lebih tua di atas saya. Sepuh, katakanlah demikian. Saya kerap berkaca pada mereka, “Kelak ketika mereka mati, adakah catatan kehidupan yang bisa dibaca oleh anak cucu mereka?”

Mungkin mereka tidak kepikiran sampai ke sana. Atau mungkin mereka beranggapan bahwa menulis tidaklah penting. Saya tidak mau seperti itu. Saya ingin ada catatan, sekalipun itu, katakanlah, catatan di blog ini. Nanti akan saya ‘sempurnakan’ lewat tulisan yang jauh lebih panjang, yakni via buku memoar.

Kalaupun bukan untuk dibaca oleh khalayak umum, setidaknya anak cucu saya nantinya bisa mengenal saya sebagai bapak atau kakek atau buyut mereka.

Harapan saya, tentunya, kebiasaan menulis itu bisa saya wariskan ke mereka juga.

Mudahan.

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s