Wawancara dengan Vivat Press ITS

17880728_1443523192377295_7149132261463677057_o

Pada 22 April 2017 saya diundang untuk mengisi Workshop Gerakan ITS Menulis (GIM) bertajuk “Yang Terucap Terlupa, Yang Tertulis Abadi”. Ini merupakan salah satu kegiatan dari serangkaian acara Gerakan ITS Menulis.

Gerakan ITS Menulis sendiri merupakan program kerja dari Badan Semi Otonom (BSO) Vivat Press, yang mewadahi dunia kejurnalistikan di ITS. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan skill menulis yang tidak hanya sekadar menulis, tetapi juga diikuti dengan teknik dan inovasi sehingga bisa menarik perhatian dan memberi keuntungan kepada penulisnya itu sendiri.

Beberapa hari sebelum workshop, panitia mewawancarai saya via surel. Saya coba tayangkan hasil wawancara tersebut di sini. Semoga bermanfaat!

Apa sih arti menulis buat Kakak?

Bagi saya, menulis adalah sarana untuk mengekspresikan jiwa, mengongkretkan pikiran, mengekalkan ingatan, menggemakan suara, juga memanjangkan usia. Menulis juga jadi alat ikhtiar saya untuk bermanfaat bagi orang lain. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain? Saya ingin mencapai itu.

Biasanya apa aja tulisan yang sering Kakak buat?
Saya menulis macam-macam. Saya rutin menulis artikel untuk diunggah di situs sekolah tempat saya mengajar (Indonesia Writing Edu Center). Di Facebook, saya biasanya menulis status-status ringan yang menurut saya inspiratif, biasanya berkisar tentang buku, aktivitas belajar mengajar, ataupun percik pemikiran. Di blog, sejak 2007 hingga kini, saya masih rajin menulis pandangan-pandangan atau insight saya tentang hal-hal tertentu terkait kreativitas, traveling, buku, pendidikan, dan banyak lagi. Di blog yang lain, saya menulis tentang ocehan-ocehan saya terhadap suatu hal yang saya tidak ingin orang lain membacanya. Kalau menulis buku, sejauh ini memang kebanyakan buku traveling. 

Apa atau siapa yang membuat Kak Lalu terinspirasi untuk menulis (sampai saat ini)?
Saya suka sekali kutipan Pramoedya Ananta Toer “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Itu mantra yang sakti sekali. Selain itu, saya juga menyukai kata-kata ini, “Jika kamu bukan anak ulama dan bukan anak raja, maka menulislah!” Di sisi lain, saya terngiang-ngiang terus dengan bayangan masa keemasan Islam yang terentang sejak abad ke-8 hingga ke-13 M. Dan, salah satu penanda dari zaman tersebut adalah tumbuh suburnya budaya literasi (membaca dan menulis). Itulah beberapa hal yang membuat saya terus semangat menulis dan ingin menularkan hal tersebut pada anak-anak muda Indonesia lainnya.

Apa saja benefit dari menulis yang sudah Kak Lalu dapetin dari menulis hingga sekarang?
Alhamdulillah, menulis bisa mengantarkan saya ke mana-mana, tidak hanya secara fisik tapi juga batin. Saya diundang talkshow buku, memberi pelatihan menulis, jadi pengajar menulis di beberapa sekolah dan komunitas. Menulis membuat jejaring saya semakin luas. Kendati saya belum pernah ke luar negeri, tapi buku saya ada di Perpustakaan Nasional Singapura juga Perpustakaan Nasional Australia. Belum lagi, teman-teman yang tinggal di luar negeri, membawa buku saya.

Perkara materi pun cukup bisa diandalkan. Tidak hanya dari royalti buku, honorarium pemuatan tulisan di media massa, tapi juga profesi mengajar menulis, serta dari pelatihan menulis yang saya berikan.

Lebih besar dari itu semua adalah kepuasan batin. Apalagi jika tulisan saya bisa bermanfaat untuk orang lain. Itu nikmat sekali.

Menurut Kakak, bagaimana kondisi generasi Indonesia tentang menulis?
Miris. Pedih. Menulis adalah keterampilan lanjutan dari membaca. Sementara fakta di lapangan menunjukkan bahwa aktivitas membaca masyarakat kita masih rendah. UNESCO merilis data pada 2012 bahwa dari 1000 penduduk Indonesia, hanya 1 yang membaca. Indonesia juga berada di peringkat 60 dari 61 negara (di atas Botswana) dalam hal literasi (membaca dan menulis termasuk di dalamnya). Coba bayangkan, membaca saja masih separah itu, bagaimana dengan menulis?

Dan, saya memang menemukan fakta di lapangan (selama mengajar) bahwa lulusan SMA sekalipun, masih belepotan nulisnya.

Menurut Kakak, bagaimana meningkatkan rasa urgensitas mahasiswa untuk menulis?
Menulis itu perlu diawali dengan membaca. Membaca itu perlu dilakukan dengan senang hati. Perasaan senang itu bisa bermula dari membaca buku-buku yang disukai.
Kebiasaan membaca itu akan melatih rasa ingin tahu dan kekritisan. Maka, orang tersebut kemudian akan mau terus membaca buku-buku yang lain. Apalagi jika dibarengi dengan diskusi dan pembuktian di lapangan. Maka, kegiatan membaca akan terasa lebih menyenangkan, relevan, dan menemukan titik kebermanfataannya.

Tentu saja, segala macam masukan (input) berupa pengetahuan, pemahaman akan konsep, juga tacit knowledge (pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman nyata sehari-hari yang susah diterangkan secara verbal) akan menjadi hal yang menggelisahkan dan bikin mumet pikiran jika tidak disalurkan dalam bentuk luaran (output). Dan, di sinilah menulis menemukan korelasi dan relevansinya.

Membaca dulu, apa saja, tidak harus teks, tapi juga fenomena sehari-hari. Barulah dituangkan dalam tulisan.

Kasih tips & trik buat tertarik atau bisa nulis.

  1. Banyak baca. Apa saja. Koran, majalah, komik, leaflet, spanduk, baliho, novel, dan jenis-jenis bacaan menyenangkan juga berbobot.
  2. Mulai corat-coret di catatan harian atau media sosial. Bisa dengan menceritakan pengalaman hari itu.
  3. Cobalah amati sekitar dengan saksama. Pengamatan ini untuk mengasah kemampuan dalam detail. Cari dan temukan apa yang unik, berbeda, atau minimal membuatmu tertarik. Cobalah untuk menuangkan pendapat, argumen, atau gagasanmu tentang hal tersebut dalam tulisan.
  4. Pilih media menulis yang paling nyaman buatmu. Kalau nyaman menulis tangan, pilih buku harian. Kalau nyaman mengetik di laptop, silakan lakukan. Kalau lebih suka menulis di media sosial dan unggah langsung, silakan. Pilih media yang paling nyaman. Asalkan kamu bisa membiasakan diri untuk konsisten menulis.

Apa pesan-pesan buat generasi-generasi selanjutnya, Kak?
Indonesia akan mengalami bonus demografi pada 2020. Jika generasi muda tidak mengisinya dengan kegiatan produktif, berkarya (dalam bidang apa pun, termasuk menulis), maka bonus demografi bisa-bisa berubah menjadi bencana demografi. Alangkah beratnya beban negara ini jika anak mudanya tidak mulai berpikir dan bertindak untuk mengembangkan diri. Menulis adalah salah satu wadah tepat untuk mengembangkan hati, jiwa, dan pikiran.

Mari lakukan mulai sekarang sebelum penyesalan datang mencabik-cabik kamu.

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s