Ombak Oranye: 92 Puisi untuk Usia 29

Bulan ini, Juni, tepatnya tanggal 27, saya akan genap berusia 29 tahun. Jika tahun-tahun sebelumnya, saya biasanya menyempatkan diri menulis di blog mengenai refleksi perjalanan hidup saya, nah tahun ini sedikit berbeda. Saya merefleksikannya dalam bentuk buku. Buku kumpulan puisi. Judulnya Ombak Oranye.

Saya memilih menghadiahi diri saya sendiri dengan karya. Hadiah barang, tak begitu menarik buat saya – kendati jarang pula saya mendapat ini dari orang lain. Itu pun saya tidak begitu berharap. Sebab, merayakan ulang tahun bukan kebiasaan yang dibangun di keluarga saya. Paling berdoa, makan. Sudah. Tidak ada acara tiup lilin, potong kue, dan sejenisnya.

Saya sadar, usia bertambah, konsekuensi logisnya adalah umur berkurang. Jatah hidup saya kian menipis. Merespons dengan kebahagiaan atau kemurungan, tidaklah tepat. Kesyukuran, kiranya itu. Syukur diberi hidup. Syukur juga dekat dengan kematian. Intinya, bersyukur.

Bagaimana bentuk syukur itu? Saya selalu mengingatkan diri saya, bahwa Allah melimpahi saya dengan beragam nikmat. Tak bisa saya hitung. Tak sanggup, tepatnya. Kalaupun dihitung, mau pakai satuan apa? Kilogram? Kubik? Meter? Derajat?

Saya hanya ingin jadi manusia yang bermanfaat. Sederhana. Kalaupun saya bisa membuat orang lain tersenyum atau tertawa, alhamdulillah. Setidaknya bisa mengurangi beban stres mereka. Kalaupun saya bisa membuat orang lain tergugah emosinya lewat tulisan atau cerita yang saya bagikan, alhamdulillah. Kalaupun orang merasa digugat pemikirannya lewat celotehan saya sehingga mereka mau berpikir lebih jauh lagi, alhamdulillah. Kalaupun murid-murid saya, misalnya, merasa senang belajar dan mendapatkan sesuatu dari apa yang saya sampaikan, alhamdulillah. Kalaupun orang-orang yang saya temui, baik petugas pom bensin, pedagang nasi lalapan, kasir di minimarket, dan lain-lain merasa hatinya hangat karena ucapan terima kasih dari saya, alhamdulillah.

Jadi, bermanfaat itu dimensinya bukan hanya hal-hal baik yang sudah jadi kesepakatan umum. Namun, kadang saya berpikir, bahwa dengan menjadi seseorang yang antagonis pun dan membuat orang lain kesal (atau saya menjadi ujian buat mereka), saya pikir itu juga bentuk kebermanfaatan. Bukankah tidak ada sesuatu yang sia-sia di muka bumi ini? Bukanlah dikatakan dalam Alquran pula bahwa “Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha melihat.” (Al-Furqan: 20)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menerangkan maksud ayat di atas dalam tafsirnya: “Seorang rasul adalah ujian bagi umatnya, yang akan memisahkan orang-orang yang taat dengan orang-orang yang durhaka terhadap rasul tersebut. Maka Kami jadikan para rasul sebagai ujian dan cobaan untuk mendakwahi kaum mereka. Seorang yang kaya adalah ujian bagi yang miskin. Demikian pula sebaliknya. Orang miskin adalah ujian bagi orang kaya. Semua jenis tingkatan makhluk (merupakan ujian dan cobaan bagi yang sebaliknya) di dunia ini. Dunia yang fana ini adalah medan yang penuh ujian dan cobaan.” (Sumber di sini)

Nah, jelas kan? Rasulullah sendiri adalah sosok yang ‘menyebalkan’ bagi umatnya. Ia menjadi ujian. Ia mengusik pemikiran umatnya. Ia mengganggu kestabilan masyarakat jahiliyah saat itu. Apakah Rasulullah jahat? Coba ganti pertanyaan itu dengan: apa yang melandasi tindakan Rasulullah untuk mendakwahi mereka? Mengapa Rasulullah melakukan itu? Nah, dengan bertanya demikian, bisa jadi kita akan menuju petualangan-petualangan pemikiran yang jauh dan mencerahkan.

Jadi, dengan niatan saya untuk bisa terus menjadi manusia yang berfaedah, maka saya membuat buku kumpulan puisi Ombak Oranye ini. Ada 92 puisi di dalamnya. Saya sengaja memilih sejumlah itu. Sebagai kebalikan dari angka 29 yang menjadi usia saya pada bulan ini, Insyaallah. 

coVER-01

Buku Ombak Oranye terbit bulan Juni 2017. Buku ini berisi 92 puisi. Saya terbitkan secara indie. 

Puisi-puisi dalam buku ini saya kumpulkan mulai rentang 2008 – 2017. Kebanyakan saya tulis pada tahun ini. Saya didorong oleh banyak hal sehingga mengerucutkan saya pada momentum ulang tahun kali ini harus punya buku. Apa saja yang mendorong saya itu?

Penerbitan buku sastra, baik novel, kumpulan cerpen, juga puisi sedang mendapatkan angin segarnya belakangan ini. Dekade ke belakang, penerbitan kumcer apalagi puisi, sangat dihindari. Tidak marketable. Tidak ada pembelinya. Penerbit pasti rugi. Namun, tidak belakangan ini. Pembaca buku-buku sastra mulai tumbuh. Festival-festival sastra di Indonesia juga mulai bermunculan di mana-mana. Dampak internet, terutama media sosial, juga mendukung ekosistem munculnya budaya membaca, sekalipun itu masih di level permukaan, yakni membaca konten-konten digital. Namun, setidaknya, warganet dipaksa untuk membaca. Ini terlepas dari juga viralnya berita bohong, palsu, juga hoax.

Pada akhir tahun lalu, saya terlecut mengikuti seleksi karya di Emerging Writers Indonesia pada Festival Ubud Writers and Readers Festival. Tenggatnya akhir Februari 2017. Saya kulik informasinya dan memantapkan diri ikut untuk kategori puisi. Saya tidak muluk-muluk, kalaupun belum lolos seleksi tahun ini, setidaknya panitia membaca karya saya dulu. Tahun depan harus ikut coba lagi.

Salah satu bentuk persiapan saya adalah membaca karya-karya emerging writers UWRF tahun sebelumnya. Sebelumnya, saya membaca karya-karya penulis pemenang sayembara sastra, semisal: Playon (F. Aziz Manna), Saiban (Oka Rusmini), juga puisi-puisi Joko Pinurbo.

Usai mengirim naskah, saya tetap lanjut menulis puisi. Target saya, saya harus menulis buku kumpulan puisi. Harus terbit tahun ini. Maka, saya mempersiapkan diri dengan membaca dan menulis. Saya baca karya-karya Aan Mansyur, Sapardi Djoko Damono, Hanna Fransisca, Hasan Aspahani, D. Zawawi Imron, Lan Fang, W.S. Rendra, Wiji Thukul.

Dan inilah cara saya belajar menulis. Autodidak dengan banyak membaca. Suatu hal yang saya lakukan sejak remaja.

Alasan lainnya adalah karena tiga tahun belakangan ini saya aktif mengajar penulisan kreatif di sekolah, pondok pesantren, juga universitas, maka saya kangen sungguh untuk berkarya yang lebih ‘serius’. Serius dalam bentuk buku. Sejak buku solo pertama saya terbit pada 2011, saya lebih banyak menulis karya antologi bersama teman-teman. Saya terlecut oleh teman-teman saya yang aktif berkarya solo. Saya juga terpantik semangat oleh murid-murid saya di kelas menulis. Mereka saya gembleng belajar menulis, saya juga harus menggembleng diri lebih keras juga dong. Ketika saya menarget mereka untuk menulis minimal satu cerpen untuk diantologikan, saya harus lebih dari itu. Harus jadi satu buku solo.

Jadi, memang tidak ada alasan tunggal untuk saya menerbitkan buku Ombak Oranye ini. Ada segepok alasan di belakangnya. Saling terkait, jalin-menjalin. Dan, itulah mungkin yang dinamakan semesta berkonspirasi. Asalkan kita punya niat dan tujuan yang jelas, maka semesta bahu-membahu mendukung kita mewujudkan itu.

Jadi, inilah buku Ombak Oranye. Saya lepaskan ke haribaan pembaca pada bulan Juni 2017 ini. Apa dan mengapa saya menjudulinya Ombak Oranye dan memilih menerbitkannya secara indie, pada tulisan berikutnya mungkin saya akan bisa ceritakan.

Bagi teman-teman yang ingin pesan, silakan pre-order masih dibuka hingga 8 Juni 2017. Bisa hubungi saya via Facebook atau Instagram atau tinggalkan komentar di blog ini.

Terima kasih.

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s