Darah Sastra dari Siapa?

Muhammad Yunus, kakek saya dari pihak ibu adalah sosok yang senang bersastra lisan. Tepatnya, beliau suka berpantun. Pantun pun yang jenaka. Dalam bahasa Sasak, kami menyebutnya lelakaq.

Saya masih ingat, saat itu saya belum masuk sekolah dasar. Kakek saya duduk-duduk di berugak sembari berpantun, lalu tertawa-tawa riang. Kalau sedang rehat siang, kadang kami, para cucu, diminta untuk memijat kaki dan tangan beliau. Dengan mata setengah terpejam, beliau akan berpantun untuk menghibur diri dan cucunya. Saya kurang begitu jelas teks pantunnya. Yang pasti, isinya khas sastra lisan lama, biasanya jenaka dan berisi nasihat.

Kenangan itu berhenti ketika beliau meninggal saat saya kelas 4 madrasah ibtidaiyah. Tak ada jejak warisan berupa tulisan. Selebihnya, beliau menurunkan DNA pada saya berupa ciri fisik yang mirip dengan beliau. Kurus, tinggi, langsing.

***

BAPAK saya seorang PNS Departemen Agama. Beliau pernah jadi Kepala Kantor Urusan Agama teladan. Gegara itulah beliau mendapat apresiasi berupa haji ke Mekkah. Itu kali pertama beliau mengunjungi kota suci itu dalam rangka ibadah. Selebihnya, beberapa kali berhaji pun karena menjadi pembimbing rombongan.

Hal yang paling saya kenang dari almarhum adalah kecintaan membaca. Beliau baca apa saja. Buku, majalah, koran. Koleksi bacaan beliau beragam. Buku-buku dari Departemen Agama apalagi. Banyak terpajang di lemari. Warna hijau menjadi ciri khas sampulnya. Saya suka membongkar buku-buku tersebut. Selain untuk kebutuhan mengerjakan tugas sekolah, juga sekadar menambah pengetahuan.

Selain membaca, beliau gemar sekali dengan kegiatan surat-menyurat. Kalaupun terlibat di organisasi, beliau kerap sebagai sekretaris yang tugasnya mengetik dokumen. Beliau duduk khusyu di depan mesin ketiknya di ruang tamu. Suara tak tik tak tik tak tik sungguh akrab di telinga saya.

Mengarsip dokumen adalah keahlian lain beliau yang mumpuni. Teliti dan tekun. Sertifikat, rapor, ijazah, juga dokumen-dokumen penting lainnya, beliau arsipkan dengan baik. Bila perlu, dibuat salinannya berpuluh-puluh lembar. Maka, main ke tukang fotokopi adalah salah satu aktivitas favorit beliau.

Saking tekunnya mengarsip, banyak hal penting terselamatkan. Pernah ada kejadian terkait urusan jamaah haji. Saya lupa detailnya karena diceritakan oleh ibu saya. Namun, itu terkait pembayaran yang nominalnya tertera di sebuah kuitansi. Jika kuitansi itu hilang, bisa berabe. Namun, dengan ketekunan yang luar biasa, bapak dibantu oleh orang-orang rumah, akhirnya membongkar kardus, lemari, dan tumpukan map. Voila! Ketemulah kuitansi itu. Selamat! 

Ketekunan dan ketelitian beliau patut saya acungi jempol. Salah satunya tampak cemerlang dalam urusan mengetik. Jika ketikan beliau ada yang salah, salah huruf saja, selain di-tipex, beliau akan bersusah-payah mengetiknya ulang. Pokoknya harus rapi dan bersih dari typo.

Apalagi ketika sudah ada komputer dan saya operatornya di rumah. Saya jadi tukang ketik beliau. Beliau membuat konsep di atas kertas. Saya yang menyalinnya di komputer dan mencetaknya. Jika sudah dibaca dan ada yang salah, beliau pasti minta saya memperbaikinya. Saya suka protes dengan perfeksionisme beliau. Ini  mengesalkan. Alasan saya, tindakan beliau buang-buang kertas. Namun, saya manut saja untuk memperbaikinya.

Bertahun-tahun kemudian, perfeksionisme dalam menyunting naskah rupanya menurun ke saya; ketika saya jadi penulis, pengajar penulisan kreatif untuk anak-anak dan remaja, juga editor di sekolah tempat saya mengajar.

Di akhir hayatnya, satu-satunya karya utuh yang beliau tinggalkan adalah tesis. Itu hasil kuliah dua tahun beliau di sebuah kampus di Mataram. Studi S-2 itu beliau tempuh setelah pensiun sebagai pegawai negeri di usia 60-an.

Pada hari ketika beliau kena serangan darah tinggi yang berakibat belasan hari rawat inap dan berujung meninggal, kata ibu saya, bapak sedang membimbing skripsi mahasiswanya. Beliau sedang berdiri di dekat rak buku beliau. Lalu, mendadak limbung. Beliau segera dilarikan ke rumah sakit.

Rupanya, itulah kali terakhir beliau bersua dengan buku.

***

Saya mencoba menelusuri riwayat saya suka sastra. Dan, inilah cuplikannya.

Lalu

Dengan ‘Ombak Oranye’, karya sastra pertama saya yang dibukukan. Ini buku kumpulan puisi. Terbita Juni 2017.

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s