Anak Muda Itu Bernama Ical

P_20171021_150840-ANIMATION

Kami sebaya. Sama-sama dari Lombok Timur. Sama-sama pengajar. Sama-sama gemar membaca dan menulis. Ia telah menulis lima buku. Saya baru dua. Kini ia sedang melanjutkan studi S-2 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sementara saya  berkecimpung dengan aktivitas mengajar dan menulis di Surabaya.

Pemuda dengan tutur bahasa halus ini bernama Ical.

Kami awalnya berteman di media sosial Facebook. Saya lupa asal-muasal kami berteman. Menurut penuturan Ical, ia menambahkan saya sebagai teman karena profil saya yang dimuat di Lombok Post. Ah, apa pun muasalnya, yang penting saya menemukan kawan sesuku: suku buku.

Dari Facebook-lah saya tahu sepak terjang Ical. Ia mendirikan Komunitas Cinta Baca (KCB). Namun, komunitas tersebut akhirnya beralih rupa menjadi Komunitas Djendela. Ia dan para sukarelawan aktif membuka lapak baca di Taman Sangkareang, salah satu ruang publik yang hits di Kota Mataram. Masyarakat pun merubungi buku-buku yang mereka gelar. ‘Melihat’nya dari jauh, saya hanya mampu bergumam dalam hati, “Keren! Keren! Keren!”

Selain aktif mengajak masyarakat membaca, Ical dan kawan-kawannya juga membuka kelas menulis. Aktivitas lainnya, setahu saya, adalah menggalang sumbangan buku, mendongeng, bedah buku, juga nonton film bareng.

Sungguh, apa yang Ical lakukan adalah hal-hal yang saya impikan bisa wujudkan di Lombok nanti. Saya sudah merancang hal-hal itu di kepala saya. Tentu, saya selalu mengingatkan diri sendiri agar tidak terlalu menggebu-gebu memasyarakatkan membaca. Saya harus rileks, santai, sehingga bisa mengajak minimal keluarga saya, baru tetangga-tetangga saya, kemudian komunitas yang lebih luas lagi untuk gemar membaca.

Dan, pertemuan perdana saya dengan Ical terjadi pada Sabtu, 21 Oktober 2017 di Malang. Saya mengabari dia seminggu sebelumnya kalau saya hendak main ke kota sejuk itu untuk outing class sekaligus mengerjakan proyek akhir kuliah Ecotourism bersama siswa-siswi jurusan Food Product 4 Surabaya Hotel School.

Siang hari, setelah kelar memberikan panduan pada murid-murid saya juga bercakap-cakap lama dengan Pak Roni, rekan dosen Universitas Brawijaya, yang memberikan materi gastronomi, saya pun jumpa Ical. Kami janjian ketemu di Oen, kafe es krim paling hits di Malang. Saya memilih di situ karena dekat dari Alun-Alun Kota yang menjadi lokasi ‘kuliah lapangan’ saya dengan anak-anak dan Pak Roni.

Rupanya Ical sedang asyik melihat-lihat buku di Gramedia yang berada di samping Oen. Saya yang baru saja kelar salat di Masjid Agung, segera mengenali dia dan menyapanya. Ya, saya cukup terlatih secara visual untuk mengenal orang, tetapi tidak untuk mengingat nama. Namun, untuk membuat saya akrab dengan orang baru, saya mencoba untuk sesering mungkin menyebut namanya dalam percakapan.

Selain saya, Ical rupanya mengajak teman semasa kuliahnya S-1 di UMM dulu, yakni Tata. Tata juga penulis. Ia menulis buku ajar untuk siswa sekolah dasar yang akan diterbitkan oleh salah satu penerbit besar di Indonesia. Ical dan Tata dulunya teman satu aktivitas di kampus. Ini pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun terpisah oleh kesibukan masing-masing di dunia nyata.

Ical dengan kaus hitamnya, tampak betul seorang penyimak yang baik. Tata juga demikian. Mungkin di pertemuan pertama itu, saya yang cenderung lebih banyak nyerocos. Maafkan saya, adik-adikku.

Kalau saya sendiri menyimpulkan, gagasan-gagasan terkait dunia literasi, itulah yang paling dominan. Saya mencoba menarik benang merah gerakan literasi di Lombok yang masih perlu perbaikan di sana sini. Meskipun kacamata yang saya pakai adalah sebagai pengamat dari jauh juga mendengarkan cerita para pegiat literasi, justru di situlah saya memiliki kesempatan untuk melihat apa saja yang sudah bagus dan apa yang masih bolong.  Selengkapnya bisa disimak pada postingan Ical ini.

Intinya, Ical adalah salah satu pemuda bersinar di Lombok yang akan menjadi mitra saya nantinya dalam berliterasi. Saya optimistis dengan itu. Ketika ada Kak Nursyda Syam bergerak di Lombok Utara, Ical di Mataram, saya hendak melakukan itu di Lombok Timur. Nanti masing-masing dari komunitas yang kami dirikan, bisa saling mengunjungi dan memperkuat jejaring literasi.

Ini memang kerja jangka panjang. Bisa jadi tidak tampak hasilnya dalam sekejap. Untuk itu, saya tidak mau terlalu muluk-muluk dan menggebu-gebu. Saya harus menikmati prosesnya. Apalagi literasi bukanlah bidang yang ‘seksi’ di mata masyarakat Lombok untuk diterjuni. Itu tantangannya.

Setidaknya kami berpijak pada satu perintah Tuhan di surat pertama yang diturunkan pada Nabi Muhammad. Iqra’. Bacalah.

Nah, Tuhan saja sudah memberi pernyataan itu. Lalu, buat apa ragu untuk menjalankannya sepenuh hati?

Pertemuan dengan Ical, saya yakini, menjadi satu mata rantai untuk perjalanan literasi yang panjang di Lombok bersama orang-orang yang punya dedikasi sama.

Bismillah … 

4 thoughts on “Anak Muda Itu Bernama Ical

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s