Budi Mulyana, Guru Saya yang Berbudi Mulia

“Fatah, bisa ya tulis artikel untuk majalah Dinas Pendidikan Lotim?”

Waktu itu saya kelas XII di SMAN 1 Selong. Mendapat tawaran sekaligus kepercayaan dari beliau, saya langsung menyanggupi.

Artikel bertema pendidikan itu pun kelar saya tulis. Naskahnya saya serahkan ke guru Biologi yang merangkap guru TIK saya tersebut.

Beberapa minggu kemudian di lab komputer, saya tetiba dipanggil maju ke depan. Saya tak tahu dalam rangka apa. Teman-teman saya yang sedang asyik berkutat di depan komputer pun mendadak memerhatikan.

Beliau memberi pengantar sembari mengeluarkan amplop. Amplop itu ia serahkan ke saya.

“Tulisan teman kalian dimuat di majalah Dinas Pendidikan. Sebagai apresiasi, ia mendapatkan honor ini,” ujar beliau. Saya sudah mau meledak rasanya. Senang sekali. “Fatah, jangan lihat jumlahnya ya? Teruslah menulis!”

Saya ingat betul momen itu. Saya lupa jumlah honorariumnya. Namun, diapresiasi di depan teman-teman sekelas, itu membuat saya makin percaya diri bahwa menulis amat layak saya jalani sepenuh hati. Hingga kini.

***

29541149_10156246339324304_5206305373574442566_n

Pak H. Budi Mulyana, M.Pd. sedang memberi pelatihan bagi para guru (Sumber: Facebook Apon Purnamasari)

Pada medio 2011, selepas merilis buku solo pertama, saya pulang kampung. Waktu itu saya mengantarkan bapak saya ke kantornya. Di tas selempang saya ada beberapa eksemplar buku Travelicious Lombok. Tak disangka di situ saya jumpa dengan beberapa guru SMA saya, termasuk Pak Budi. Maka, langsung saja saya memberikan buku perdana saya itu ke guru-guru saya tersebut.

Ya, saya sebelumnya memang sudah meniatkan untuk memberikan beberapa eksemplar buku saya ke guru-guru SMP dan SMA saya. Tidak secara langsung saya hendak nyatakan ke mereka bahwa ada tangan-tangan dingin mereka yang telah membentuk karakter dan pola pikir saya. Jadi, menghadiahi mereka dengan buku saya adalah bentuk ikhtiar terima kasih saya.

Apalagi pada Pak Budi. Saya tentu tak melupakan bagaimana ia memotivasi saya menulis. Bahkan, ketika kini saya menjadikan menulis sebagai napas saya, saya harus berterima kasih pada beliau.

***

Saya dan teman-teman SMAN 1 Selong angkatan 2003 mengenal beliau pertama kali di kelas X. Beliau pindahan dari SMAN 1 Pringgabaya.

Perkenalan pertama itu langsung membekas. Beliau ramah, murah senyum, suka bercanda, dan menyapa murid-muridnya. Aura positifnya begitu kuat. Apalagi sesekali beliau mengeluarkan celotehan dalam bahasa Sunda. Itu membuat kami lekas mengingatnya.

Beliau membangun suasana belajar yang menggembirakan, tak bikin tegang. Tak heran, saya perhatikan banyak siswa yang mengidolakan beliau.

***

29511594_10156246339399304_6143690437638942619_n

Sumber: Wahyu bin Pak Cekunt

Sore tadi tepatnya pukul 17.13 WIB saya menerima pesan pendek dari sebuah nomor.

“Innalillahi wainna ilaihirojiun,telah meninggal dunia guru kita H.Budi Mulyana tadi sekitar jam 17:30 di RSUP Mataram,semoga dimaafkan segala salah dan khilafnya,diterima segala amal ibadahnya,semoga khusnul khotimah,aamiinn”

Saya gelisah dan mencoba kroscek di grup WA angkatan 2003.

Teman-teman pun langsung menyahut dan memberi kabar yang sama. Mengonfirmasi kebenaran berita itu.

Innalillahi wainna ilaihi raaji’uun …

Semua dari-Nya dan akan kembali pada-Nya. Sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi sesama makhluk-Nya.

Melalui tulisan ini, saya hendak mengabadikan kenangan baik tentang beliau. Saya yakin, ada ratusan bahkan mungkin ribuan murid yang pernah beliau ajar, menyimpan kenangan baik pula.

Mari kita doakan almarhum. Pun keluarga yang ditinggalkan, sang istri Bu Apon Purnamasari, putranya Kalikautsar Mulyana, dan dua buah hati beliau yang lain diberi ketabahan luar biasa menghadapi ini.

Insyaallah akhir yang baik untuk beliau. Aamiin ya robbal ‘alamiin …

***

Saya sempat mencari akun Facebook beliau. Kami sebelumnya berteman. Namun, ketika mengetikkan nama “Boedi Oeding” – itu nama akun beliau – saya tidak menemukannya. Bisa jadi telah beliau nonaktifkan.

Akan tetapi, ketika saya ketikkan nama “Budi Mulyana” di kolom pencarian Facebook, sampailah saya di sebuah video yang diunggah oleh akun Sebastiana Rosa.

Di situ Pak Budi sedang bicara di depan kelas di SMA 1 Kota Bima. Saya menyimak video itu dan sampailah pada menit 1:52 ketika beliau memotivasi para siswa dengan cerita bahwa beliau terlatih sejak SMA kelas 2 untuk menulis artikel. Itu salah satu cara beliau untuk menambah uang jajan. Belajar berwirausaha.

Menyimak itu, saya tepekur lama. Bahwa, rupanya beliau pun menanamkan bibit wirausaha itu pada saya. Subhanallah …

Semoga segala ilmu yang beliau tularkan menjadi amal jariyah untuk beliau.

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s