Candu Bikin Video

Bikin video itu nagih!

Saya berkata begini karena saya sedang mengalaminya. Buat saya, ini keterampilan baru yang mengasyikkan. Biasanya saya bermain dengan teks dan visual 2D berupa foto yang saya tekuni sejak SMA. Belakangan ini, berkat konspirasi semesta, saya pun kecemplung  membuat video dan kecanduan.

Berlebihan? Tidak.

Dulu saya awalnya terpikir ingin bikin video perjalanan alias traveling. Namun, melihat jam terbang traveling saya tidaklah intens karena saya sibuk mengajar dan menulis, maka saya mencoba berdamai dengan diri. Daripada muluk-muluk bikin video traveling, kenapa tidak mendokumentasikan aktivitas mengajar saya saja?

Memang saya tidak memungkiri punya impian macam-macam. Namun, untuk menuju ke sana, saya paham bahwa saya harus melewati anak-anak tangga yang jumlahnya tidak sedikit. Saya harus belajar sabar menjalani prosesnya. Lantas, langkah paling mudah untuk saya tempuh adalah memulai dari hal paling dekat dengan diri saya.

Aktivitas keseharian saya.

Tentu bukan aktivitas dari bangun tidur sampai tidur lagi seperti jamaknya para vlogger sekarang. Saya bukanlah seleb atau vlogger macam itu. Saya lebih memilih mengabadikan kegiatan saya mengajar, entah di kelas ataupun ketika mengisi lokakarya menulis.

Bagi saya, membuat video adalah salah satu upaya dokumentasi. Apalagi pada era digital sekarang. Era media sosial. Orang berbagi apa pun melalui media sosial mereka, entah itu Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, dan lainnya.

Saya sendiri lebih intens main Facebook dan Instagram. Twitter sudah cukup lama vakum dan pelan-pelan saya tinggalkan. Sesekali saja yang membagikan tautan tulisan atau video saya di sana. Sementara YouTube baru sebulanan ini saya intens gunakan untuk unggah video hasil suntingan saya. Sebelumnya memang ada beberapa video saya di sana, tapi lebih sebagai back up, biar tidak menumpuk di memori ponsel saya. Bukan video hasil suntingan.

***

Omong-omong mengenai kegandrungan saya sunting video belakangan ini tidak lepas dari peran teman-teman saya sesama penulis, terutama yang gemar traveling. Mereka tidak lagi sekadar menulis artikel traveling di majalah atau koran. Mereka lebih jauh lagi bergerak dengan saling pacu untuk membuat konten video untuk dikirim ke media seperti Citizen Journalist NET TV atau ikut kompetisi video pendek.

Namun, yang lebih menarik lagi adalah mereka membuat konten itu hanya dengan mengandalkan ponsel pintar. Bagian ini yang paling menggairahkan. Artinya, ketika dulu paradigma membuat video itu harus dengan peralatan kamera yang canggih, semacam handycam, tapi kini di era digital, khususnya media sosial, membuat video cukup kok dengan ponsel kamera yang resolusinya tinggi dan minimal bisa rekam HD. Ponsel mana sih yang hari begini belum mengakomodasi fitur kamera video? Apalagi di era selfie yang telah mendorong vendor ponsel pintar mengeluarkan produk-produk kekinian mereka.

Dorongan saya membuat konten video karena mengamati merebaknya vlogging dan fenomena YouTube. Apalagi media sosial macam Instagram dan Facebook makin mengakomodasi konten video. Orang tidak lagi disuguhi sekadar teks dan gambar, tapi juga audiovisual.

Faktor lain adalah kebutuhan belajar mengajar saya. Berhubung saya mengajar mata kuliah Ecotourism di Surabaya Hotel School sejak pertengahan 2016, tugas akhir mereka adalah bikin konten video. Gagasan itu muncul bermula dari kegelisahan saya karena ada siswa yang suka main gawai ketika berada di kelas. Alih-alih marah dan ngomel, di titik itulah saya tercetus untuk mendayagunakan ponsel pintar mereka sebagai wahana membuat tugas. Saya ajarkan mereka menulis kisah perjalanan, tapi diunggah di Instagram, beserta foto-fotonya. Pun sebagai tugas akhir, mereka saya minta membuat video Ecotourism sesuai objek peminatan mereka. Mereka mengumpulkannya via Instagram atau YouTube.

Ya, belajar pun jadi lebih menyenangkan karena mereka tetap bisa terhubung dengan gawai mereka. Mereka bisa tetap ‘main’, tapi tujuan pembelajaran saya tercapai. Tidak perlu tes tulis di atas kertas yang bisa saja tidak akan saya baca lagi begitu selesai koreksi. Namun, dengan mengumpulkan tugas secara digital, mereka punya rekam jejak ‘karya’. Kapan pun mereka bisa tengok selama ada koneksi.

***

Faktor-faktor yang saling menjalin dan mendukung itulah, maka mau tak mau saya belajar bikin video juga. Belajar membuat cerita, belajar teknik pengambilan video, juga belajar aplikasi pengolah videonya. Semua itu, sebagaimana keterampilan lainnya, perlu latihan, pembiasaan, dan eksplorasi terus-menerus.

Saya merasakan bahwa membuat konten video itu amat menyenangkan. Saya punya cara lain untuk mengekspresikan diri. Sebab biasanya saya mengekspresikan itu via teks dan gambar, seperti tulisan-tulisan saya di blog dan media sosial. Nah, kini ada cara yang lebih ‘hidup’ dan memanjakan mata juga telinga, yakni video.

Meski demikian, saya tidak akan menjauhi menulis, kok. Selain menulis memang sudah jadi hidup saya. Juga ini ‘wilayah’ yang paling privat dan bisa saya lakukan di mana pun ketika dapat gagasan. Bahkan, jika ditelaah, kemampuan menulis amat berguna untuk membangun imajinasi visual yang bakal tertuang dalam video. Jadi, keterampilan menulis dan memotret saya, membantu sekali dalam membuat video.

Saya mengecek di akun YouTube saya, bahwa dalam waktu tiga minggu saja, saya sudah bikin 14 konten video. Ya, memang rata-rata video pendek. Namun, itu sudah menjadi kemajuan dalam diri saya. Awalnya cuma sebagai penikmat konten video, kini belajar membuatnya.

Ah, belajar hal-hal baru, apalagi untuk mendukung peningkatan kompetensi diri itu, memang menyenangkan! Apalagi jika kita memang punya renjana kuat dan memahami alasan kita melakukannya.

Jika Anda punya waktu, silakan main-main ke akun YouTube saya. Jangan lupa sukai dan berlangganan, ya?

Youtube Channel

Iklan

6 thoughts on “Candu Bikin Video

  1. Saya dulu 2013an suka sekali edit video perjalanan, baru sekitar 5 video sudah keteteran karena workflow yang tidak efisien, satu video bisa lama sekali proses editingnya, dan hasilnya biasa saja…ahaha

    Sekarang sudah mulai lagi, beberapa yang baru video dalam format 360, yang tinggal trim dan render saja. Ahaha

    Sedang mulai berminat lagi ke ranah video, tentungnya dengan durasi dan workflow yang efisien.

    Nanti saya mampir ke channel anda, kalau bagus ya saya sub…hehehe

    Salam

    • Hehehe … Terima kasih Mas sudah berbagi pengalaman. Betul sekali, nge-shoot-nya enak, tapi editing yang bikin spanneng. Makanya, saya ambil simpelnya saja. Kalau ada aplikasi yang menyenangkan dan nggak ribet, kenapa harus mempersulit diri? Yang penting hepi dulu berkarya, baru deh pelan-pelan belajar editing yang lebih canggih 😀

  2. Syutingnya menyenangkan kl bikşn video tp ngeditnya suka keteteran hehe,apalg saya pny 2 balita,bisa cm twngah malam buat pegang laptop,tau2 mau subuh aja.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s