Kumpulan Cerpen Rindu Lindu Terbit

Juni 2019.

Buku kumpulan cerita pendek (cerpen) perdana saya akhirnya terbit. Judulnya Rindu Lindu. Ini buku solo ketiga saya setelah Travelicious Lombok – panduan perjalanan (2011) dan Ombak Oranye – kumpulan puisi (2017).

Apa artinya ini? Mengapa saya menulis fiksi? Mengapa tidak bermain di ranah nonfiksi saja?

Bagi saya, menulis adalah aktivitas penjelajahan. Menulis adalah cara untuk keluar dari penjara pikiran. Menulis adalah eksplorasi sampai titik yang kamu sendiri tak tahu ujungnya di mana.

Demikian saya menganggap aktivitas menulis.

Saya menyadari bahwa saya memiliki minat yang beragam dalam hal perbukuan. Selera bacaan saya berubah-ubah. Ketertarikan saya terhadap genre tulisan juga demikian. Saya ibaratkan genre tulisan itu seperti ruang-ruang dengan dinding yang lunak. Saya bisa menerobosnya dengan sesuka hati saya. Tentu setelah melatih kemampuan adaptabilitas saya dengan baik.

Artinya, minat dan rasa ingin tahu yang tinggi membuat saya memberanikan diri membaca genre apa pun. Selama itu berupa teks, saya akan membacanya. Tak peduli itu berupa koran, teks iklan, petunjuk pemakaian di belakang bungkus obat atau makanan, merek atau papan nama toko-toko, dan seterusnya.

Saya merasa, saya lahir untuk kata-kata. Saya tertarik luar biasa pada kata-kata. Pada cerita. Pada buku. Itu terjadi sejak kecil. Terima kasih untuk almarhum Bapak saya yang telah menanamkan kecintaan membaca pada diri saya. Pun beliau adalah teladan yang nyata bagi saya dalam hal membaca.

Balik ke Rindu Lindu. Saya memilih judul ini karena suka dengan permainan katanya. Rindu. Lindu. Sama-sama lima kata, hanya beda huruf depan. Meskipun secara makna memang jauh.

‘Rindu’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Sementara ‘Lindu’ artinya gempa bumi dalam bahasa Jawa.

Teman saya yang peka bertanya melalui komentar di media sosial, “Kok rindu lindu? Gempa kok dirindukan?”

Saya hanya menyahut, “Baca dulu, Bu.”

Jujur, saya pribadi membuat judul itu karena suka dengan permainan bunyinya. Perkara apakah judulnya relevan dengan isinya, saya serahkan kepada pembaca untuk menilai.

Selain itu, saya sempat juga bikin survei di Instagram mengenai dua judul buku yang cocok untuk buku saya. Dua judul ini ada di dalam kumpulan cerpen ini. Saya bertanya, mending mana: Rindu Lindu atau Kelas Surga?

Lebih banyak memilih Rindu Lindu.

Saya pun memilihnya dan mengirimkan itu ke desainer sampul.

Rindu Lindu, Kumpulan Cerpen

Sampul buku Rindu Lindu garapan Sukutangan

Oya, mengenai desain sampul, saya memakai jasa Sukutangan. Pasangan suami istri ini, Genta dan Ndaru, sejak lama telah memikat saya dengan sampul-sampul buku oretan mereka. Klien mereka sudah banyak, baik dari penerbit besar macam Gramedia hingga penerbit indie. Cek saja di Instagram @sukutangan.

Sebab ini buku indie, saya benar-benar memiliki keleluasaan untuk menentukan banyak hal demi penerbitan buku ini. Mulai dari menentukan judul, memilih sampul, menulis dan mengedit cerita, mengonsep tata letak, serta menetukan spesifikasi cetakan.

Pengalaman sebagai penulis dan bekerja di sebuah sekolah menulis, sangat membantu saya untuk melakukan ini.

Oh, mengenai cerita-cerita di dalam buku ini, mending kamu baca sendiri, ya?

Ada 13 cerita pendek yang termuat dalam buku ini. Saya sengaja memilih 13 cerita karena erat kaitannya dengan 13 tahun lamanya saya merantau di Jawa.

Ini cara saya untuk mengucapkan salam perpisahan dengan Jawa. Sebab per Agustus 2019 ini saya akan mulai menetap di kampung halaman saya, Lombok.

Oh iya, saya masih membuka pre-order alias pemesanan awal lho!

Silakan hubungi WA 085655695645. Selain potongan 10%, kamu juga bakal dapatkan mug keren dan tanda tangan saya.

PreOrder Rindu Lindu

Pre-order buku Rindu Lindu oleh Lalu Abdul Fatah

 

One thought on “Kumpulan Cerpen Rindu Lindu Terbit

  1. Ping-balik: Cerita yang Meneror dalam Kapotjes dan Batu yang Terapung | Setapak Aksara

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s