Profil

Lalu Abdul Fatah

Saya lahir pada 27 Juni 1988 di Pancor, Selong, Lombok Timur. Bapak saya, Drs. H. Lalu Abdul Hamid, S.H., seorang pensiunan Departemen Agama. Ibu saya, Muslimah, pada Juli 2005 telah dipanggil Allah. Namun, bapak menikah lagi pada 2007 dengan perempuan bernama Nurul Ikhsan dan memberikan saya satu adik perempuan.

Saya memiliki 9 saudara yang terdiri atas 5 perempuan dan 4 laki-laki. Saya anak ke-6. Posisi ini memberi saya kesempatan untuk jadi kakak sekaligus adik. Posisi di tengah-tengah ini saya rasakan pula manfaatnya ketika memasuki lingkungan baru. Saya merasa lebih cepat untuk menempatkan diri, kapan jadi orang yang dituakan, kapan jadi orang yang dimudakan.

Semasa kecil, di antara saudara-saudara yang lain, saya termasuk yang paling suka membaca. Saya ingat, bapak melanggankan majalah ‘Aku Anak Saleh’ untuk saya. Saya  tekun membaca, mewarnai, dan mencorat-coret. Di rumah juga banyak sekali buku keluaran Departemen Agama. Seingat saya, sayalah orang yang paling sering membongkar koleksi buku itu di lemari. Saya haus pengetahuan. Saya ingin tahu lebih banyak. Saya merasa tiap kali membaca, saya berada di dunia lain yang mengasyikkan.

Lalu Abdul Fatah

Saya juga kerap meminjam bacaan dari tetangga. Selan itu, saya meminjam, tepatnya mencuri, buku dari perpustakaan di Madrasah Ibtidaiyah NW no. 3 Pancor, tempat saya menghabiskan masa belajar 6 tahun di sana. Sebab, sekolah saya belum punya prosedur baik untuk peminjaman buku. Sementara buku-buku tersebut hanya disimpan di lemari, waktu istirahat yang sedikit untuk membaca, dan siswa yang tidak dibolehkan meminjam, saya kerap nekad menyelinap ke ruang guru (dan mengambil buku) serta menyelipkannya di pinggang belakang.

Buku-buku cerita bantuan pemerintah itulah yang saya lahap sambil makan siang. Saya makan sambil membaca. Kebiasaan yang bisa jadi kurang baik. Tapi, sampai detik ini, saya masih melakukannya. Saya merasa ada sesuatu yang kurang jika makan tidak disambi dengan membaca. Itu pula yang menyebabkan saya menjadi warga rumah yang paling lama menghabiskan makanan. Rekor itu belum tergantikan oleh saudara saya lainnya hingga saat ini.

Kesenangan membaca itu rupanya berdampak pada kesenangan menulis cerita. Saya ingat betul, kala pelajaran mengarang, saya akan dengan senang hati bercerita. Mengeluarkan koleksi kosakata yang saya punyai. Saya ingat, saya pernah bangga sekali bisa menggunakan kata ‘otomatis’ dalam salah satu karangan saya. Bagi saya, itu kata yang canggih dan saya yakin teman-teman saya belum mengenalnya.

Sementara itu, prestasi saya di sekolah tergolong baik. Saya sering berada di lima besar. Guru-guru saya pun kerap menggembleng mental saya dengan mengikutkan saya pada lomba mata pelajaran dan lomba baca puisi. Untuk lomba baca puisi, misalnya, saya mewakili sekolah hingga tingkat kabupaten. Rasanya menyenangkan bukan main.

Guru saya juga menunjuk saya menyampaikan pidato pada perpisahan kelas 6. Saya suka tampil, memang. Saya merasa dalam diri saya ada kecenderungan ingin jadi pusat perhatian. Jadi, tantangan itu pun saya sanggupi.

Saya pun lulus dari madrasah dengan NEM tertinggi se-Kecamatan Selong untuk kategori Madrasah Ibtidayiah.

Tidak seperti kakak-kakak saya yang melanjutkan pendidikan menengah pertama di sekolah agama, saya memilih masuk SMPN 1 Selong. Dengan modal NEM yang baik, saya percaya diri untuk masuk. Dan, memang demikian yang terjadi.

Di SMP inilah, saya masuk kelas unggulan. Sebuah kelas yang menurut saya agak diekslusifkan dan membikin siswa-siswinya jadi agak sok. Saya merasa demikian. Kelas unggulan ini terlalu dipuji-puji oleh para guru, dan itu tidak baik, menurut saya. Murid yang masih bermental hijau menjadi lebih mudah tinggi hati. Merasa diri mereka lebih pintar tinimbang murid-murid di kelas biasa. Semoga klasifikasi macam begini dihapuskan dari sekolah-sekolah di Indonesia. Sekolah itu seharusnya jadi tempat inklusif bagi semua kalangan untuk belajar.

Meski demikian, saya beruntung dipertemukan dengan teman-teman berotak encer. Saya yang pada dasarnya memiliki mental kompetitif yang cukup tinggi, malah merasa terpacu untuk semangat belajar di kelas seperti ini. Kerjaan saya tidak lain adalah belajar, belajar, dan belajar. Bahkan, bisa dibilang, saya jadi anak kuper karena saking asyiknya di kamar, sepulang sekolah, hanya untuk membaca, mengerjakan soal, dan belajar. Tentu, sambil mèmbantu ibu mengerjakan tugas domestik, semisal: menyapu rumah.

Di SMP ini, saya memiliki guru bahasa Indonesia yang menggembleng saya untuk kian mencintai puisi. Jika di MI saya ikut lomba deklamasi puisi, maka di SMP-lah saya belajar menulis puisi. Apalagi guru bahasa Indonesia saya, Bu Suparni, pernah memberi tugas menyalin puisi-puisi para sastrawan Indonesia dalam sebuah buku tulis. Saya seperti remaja yang kesurupan, membongkar lemari buku kakak-kakak saya, mencari buku-buku bahasa Indonesia, dan tekun menyalin puisi-puisi. Saya tak tahu, setan apa yang merasuki saya sampai betah menulis lebih dari satu buku tulis hanya untuk menyalin puisi-puisi itu.

Di SMP pulalah, saya boleh bilang, menemukan ‘guru’ menulis saya yang pertama. Dia adalah teman sekelas saya sendiri. Namanya Deswarini Andarstuti alias Rini. Sejak kenal di kelas satu, ia kerap bikin saya iri. Iri karena ia kerap dipanggil maju ke depan saat upacara bendera dan menerima piala karena menang lomba mengarang. Itu memang kompetensinya sejak SD, dibimbing oleh bapaknya. Melihat prestasinya itu, saya kagum. Saya juga ingin bisa menulis.

Di kelas dua, saya coba iseng ikuti lomba menulis artikel. Ketika diumumkan sebagai salah satu juara, saya senang bukan main. Urusan pelajaran sekolah, saya tergolong oke bahkan kerap ranking satu hingga juara umum pada kelulusan SMP. Namun, saya merasakan, ketika saya punya prestasi menulis, itu suatu hal yang tidak biasa. Banyak anak pintar secara akademis dengan angka-angka bertabur 9 dan 10 di rapornya. Tapi, bagi saya, ketika saya punya prestasi non-akademik, yakni menulis, itu jauh lebih membanggakan.

Di kelas 3 SMP, saya akhirnya bisa terpilih sebagai anggota mading. Di sinilah, saya pertama kali memublikasikan cerpen saya di mading. Itu rasanya tak bisa saya ungkap dengan kata-kata. Sebab, saya pernah patah hati karena puisi saya di kelas satu dulu tak lolos kurasi guru bahasa Indonesia. Tak lolos mask mading.

Oya, judul cerpen saya “Bila Hidayah Telah Datang”. Tema Islami-nya masih kental terasa. Ini tak lain karena pengaruh cerpen-cerpen di Majalah An-Nida yang saya baca. Majalah itu langganan kakak ketiga saya saat ia jadi mahasiswi Unram.

Gairah saya menulis kian tak terbendung. Di SMAN 1 Selong, saya tidak terlalu memedulikan prestasi akademik. Meski saya masih berada di tiga besar di kelas, pernah ikut olimpiade Fisika yang ternyata saya tak becus, berkali-kali remedial Kimia, juga sampai jawara lima olimpiade Astronomi tingkat Provinsi NTB, namun yang bikin saya merasa jauh lebih hidup dan ‘berbeda’ dengan siswa kebanyakan adalah renjana (passion) menulis yang meluap-luap.

lalu abdul fatah

Saya memang anak IPA, tapi prestasi menulis saya mengalahkan anak-anak kelas Bahasa. Rini, ‘guru’ menulis saya di SMP yang melanjutkan di SMA yang sama dengan saya, malah meredup prestasi menulisnya. Ia justru cenderung ke bisnis, bidang yang ia tekuni sungguh dan mampu menghidupinya kini.

Saat jam istirahat tiba, saya ke perpustakaan. Saya melahap buku-buku sastra, khususnya buku kumpulan cerpen. Saya kian tertarik pada genre sastra yang satu in. Lebih-lebih di perpustakaan SMA saya tersedia Majalah Horison, majalah sastra terkemuka di Indonesia. Inilah jenis bacaan yang kerap saya pinjam dan bawa pulang.

Saya menikmati sungguh cerpen-cerpen karya Danarto, Raudal Tanjung Banua, Helvy Tiana Rosa, Jamal D. Rahman, Joni Ariadinata, Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma, dan banyak lagi lainnya. Melalui karya mereka, saya memperkaya diksi dan bereksperimen dengan gaya ungkap. Dengan latar belakang sebagai penikmat puisi, maka cerpen-cerpen saya cenderung puitis.

Ini juga pengaruh guru bahasa Indonesia, yang saya rasa, kerap membanggakan kemampuan saya menulis cerpen di depan kelas. Saya bahkan disuruh maju dan menceritakan ulang cerpen yang saya tulis. Cerpen saya diam-diam beliau kirimkan ke majalah dan dimuat. Dikabari di depan kelas, hidung saya kembang-kempis.

Di SMA pulalah, saya kian sering mengikuti lomba menulis, baik itu puisi maupun cerpen. Ini juga berkat keberadaan seperangkat komputer yang dibelikan oleh bapak. Saya kerap mengetik cerita malam-malam. Menulis puisi saat hujan. Kapan pun inspirasi datang, saya akan menyalakan komputer dan segera mengetik.

Sebelum punya komputer, saking inginnya ikut lomba menulis, saya rela ke rental komputer. Mengetik di sana, mencetaknya, lalu mengirimkannya ke panitia lomba. Ikut lomba pun, saya lebih suka mengirim naskah secara mandiri. Artinya, tidak melalui sekolah atau mengatasnamakan sekolah. Jujur saja, saya kurang suka hal-hal prosedural, semisal: bikin surat pengantar sekolah dan tetek-bengek macam itu. Saya lebih suka mengirim naskah saya sendiri lewat kantor pos. Saya hanya merasa cukup percaya diri dengan karya saya. Apalagi sekolah pun, sejauh pengalaman saya, tidak membimbing saya secara khusus dalam menulis. Saya belajar sendiri, autodidak, dengan membaca, mengamati pola, dan mencoba bereksperimen dalam menulis puisi atau cerpen.

Di SMA kelas dua-lah, saya pernah menyabet juara 2 lomba menulis puisi tingkat pelajar SMA/MA se-NTB. Tahun berikutnya, saya meraih juara 2 lomba menulis cerpen tingkat pelajar SMA/MA se-NTB. Di lomba tingkat nasional yang diadakan sebuah kampus di Yogyakarta, cerpen saya berada di posisi ketiga.

Prestasi demi prestasi di bidang menulis itu, membikin saya tambah percaya diri sekaligus gamang. Sebab, saya masuk jurusan IPA, namun saya ingin masuk Hubungan Internasional atau Sastra Inggris. Saya ingin HI karena sejak SMP, saya diceritakan manisnya kelak jika jadi diplomat atau duta besar. Lebih-lebih, pelajaran ilmu sosial saya senangi. Demikian juga dengan pelajaran bahasa.

Impian saya berkuliah di HI UI. Tapi, lewat jalur prestasi pun, saya terpental. Saya ikut SPMB pada tahun 2006, namun HI UI, Teknik Geodesi UI, dan HI Universitas Jember, semuanya mementalkan saya. Tes STAN dan tes STIS pun tak mampu saya lewati. Saya merasa ini fase gagal yang tak main-main.

Tapi, saya tak ingin menganggur selama setahun ke depan. Saya ingin berkuliah. Saya ingin mencari pengalaman. Jawa jadi jujukan saya. Ini karena pengaruh bacaan juga cerita dari orang-orang sekitar saya tentang kualitas pendidikan di sana. Maka, dengan restu keluarga, saya pun hijrah ke Malang. Kuliah D-1 Informatika dan Teknik Komputer di Wearnes Education Center.

Lalu Abdul Fatah

Dosen bahasa Inggris saya di WEC Malang adalah seorang blogger aktif. Dia meminta para mahasiswa mengunjungi blognya. Dan, saya terkesima. Saya pun memutuskan untuk bikin blog pada Februari 2007. Sejak saat itu, saya keranjingan menulis di blog. Tulisan-tulisan yang selama ini mengendap di folder komputer, saya unggah di blog. Saya menyukai interaksi antarnarablog. Itu pula sebenarnya yang jadi cambuk untuk rajin isi blog.

Blog menjadi pintu masuk saya untuk berkenalan dengan orang-orang yang gemar menulis dan giat membaca. Mereka memiliki latar belakang yang beragam, baik itu daerah, pendidikan, peminatan, usia, juga profesi. Lewat blog pulalah, saya bisa berinteraksi dengan para penulis – yang sebelumnya saya bayangkan sebagai orang-orang tak tersentuh, hanya bisa kenal mereka lewat karya semata. Sungguh, internet menjadi jembatan penghubung yang dahsyat.

Saya merasakan manfaat yang banyak dari menulis di blog. Selain jejaring yang meluas, saya juga kian eksploratif dalam menulis. Saya bereksperimen – lebih tepatnya main-main – dengan cerpen. Puisi jalan terus. Saya belajar meresensi buku. Saya mencoba-coba menerjemahkan. Saya kian keranjingan ikut lomba menulis – yang tentu saja informasinya kian gampang saya peroleh berkat agihan teman-teman narablog.

Kuliah setahun di Malang, jika boleh saya bilang sekarang, adalah fase yang cukup krusial dalam hidup saya. Itu masa awal saya jadi anak rantau. Belajar untuk lebih mandiri, lebih toleran dengan keberagaman, dan menghadapi hal-hal baru. Kendati tak semuanya manis, namun justru di situlah seninya. Lebih-lebih saya merasa bahwa saya adalah tipikal orang yang suka belajar. Pengalaman-pengalaman itu akan mengayakan referensi hidup. Mengayakan batin.

Tahun berikutnya, saya lulus SPMB. Saya masuk HI Unair, Surabaya. Saya memilih Unair karena referensi teman sekelas saya di WEC Malang. Ini juga berkat rujukan dari dosen bahasa Inggris saya yang lulusan Sastra Inggris Unair. Untuk menembus HI Unair, saya memang lebih menyiapkan diri dengan ikut bimbel intensif. Tidak seperti tahun sebelumnya.

Lalu Abdul Fatah - HI Unair

Di HI Unair, kemampuan menulis saya kian terasah. Sebab, hampir tiap mata kuliah ada tugas menulis paper. Jika satu semester mengambil tujuh mata kuliah, misalnya, bisa jadi lima di antaranya mewajibkan tugas menulis mingguan. Selain belajar perpolitikan luar negeri, hal yang paling terasa selama saya belajar di HI adalah belajar berpikir sebab diskusi adalah budaya yang dibangun di kelas. Inilah sebenarnya inti menulis: berpikir.

Ketika dulu di SMA, saya suka menulis puisi dan cerpen, dan berkeinginan kuat bisa menulis nonfiksi, seperti artikel, esai, karya jurnalistik, juga karya tulis ilmiah. Maka, di kampuslah saya tertempa menulis nonfiksi. Saya gabung sebagai reporter majalah jurusan. Saya ikut lomba karya tulis dan menang hingga tingkat nasional.

Meski demikian, saya tak melupakan genre awal yang saya tekuni: puisi dan cerpen. Selama kuliah di HI, karya-karya saya kian beragam dan muncul di berbagai media, semisal: artikel, esai, resensi, opini, puisi, cerpen, juga fitur perjalanan. Fitur perjalanan ini mulai kerap saya tulis sejak menerbitkan buku solo pertama saya, Travelicious Lombok.

Travelicious Lombok diawali dari perkenalan saya dengan editor Laskar Pelangi di Yogyakarta, Imam Risdianto. Ia adalah suami dari teman narablog saya. Pulang dari Jogja, beberapa bulan kemudian, dia menantang saya menulis buku perjalanan tentang Lombok. Format dasarnya buku panduan, namun tetap ada kisahnya. Saya pun menyanggupi. Saya pikir, ini langkah bagus untuk masuk pintu penerbitan besar di Indonesia.

Pada pertengahan 2010, saya magang di Lombok Post. Saya sembari melakukan riset untuk buku perdana saya. Saya kumpulkan brosur, tanya teman-teman Lombok Post, juga riset via internet. Saya susun itinerary. Dan, seminggu setelah lebaran Idul Fitri, saya pun mulai jalan keliling Lombok. Dari target 8 hari, karena masalah biaya, saya cukupkan 7 hari.

Balik ke Surabaya, saya mulai mencicil tulisan. Selama 8 minggu saya menulis, entah di perpustakaan kampus maupun di kamar kontrakan. Kalau jenuh dan mandek, saya jalan kaki ke toko buku. Saya ke rak buku perjalanan sambil membayangkan bahwa tak lama lagi buku saya akan bertengger di situ.

Selain itu, upaya menyemangati diri saya lakukan dengan membuat pengingat di ponsel. Saya menulis, buku ini harus kelar karena alasan utama: Lombok. Saya membayangkan wajah orang-orang yang saya temui sepanjang perjalanan keliling Lombok. Saya membayangkan harapan. Saya ingin berkontribusi pada daerah asal saya. Ini ikhtiar yang bisa saya lakukan.

Tiga minggu kemudian, jawaban datang dari penerbit. Bentang Pustaka melalui lini B-First, setuju untuk menerbitkan. Tentu saja harus melalui proses penyuntingan. Saya menjalaninya dengan senang hati karena ini proses belajar sesuatu yang baru buat saya.

Februari 2011, buku saya pun keluar dari sarangnya. Rasanya? Jangan ditanya.

Lalu Abdul Fatah - Travelicious Lombok

Respon dari pembaca pun membuat saya terharu senang. Lewat surel, mereka sampaikan keinginan ke Lombok. Mereka minta dibantu menyusun itinerary yang disesuaikan dengan lama liburan mereka. Bahkan, ada pula yang tertarik berbisnis kerajinan tangan, gara-gara cerita kunjungan saya ke beberapa sentra produksi kerajinan tangan di Lombok Timur dan Lombok Tengah.

Apa yang saya idam-idamkan dan saya jadikan alasan utama menyelesaikan buku, yakni Lombok, ternyata pelan-pelan tampak hasilnya.

Setelah badai euforia melanda saya berbulan-bulan, muncul lagi kegelisahan. Saya merasa buku panduan perjalanan yang saya tulis memiliki kekurangan, yakni informasi yang tidak fleksibel diperbarui. Kecuali jika cetak ulang dan ada edisi revisi. Karena cetak ulang di luar kuasa saya – penerbit yang berhak – maka, saya menyiasati dèngan membikin grup Facebook bernama Lombok Backpacker pada 31 Desember 2012. Grup ini saya niatkan sebagai sarana berbagi informasi termutakhir tentang wisata di Lombok.

Hingga saat ini, anggotanya mencapai lebih dari 12 ribu orang. Jumlah yang cukup besar, saya kira. Tiap beberapa jam, mesti ada permintaan untuk masuk ke grup. Ini juga saya kira karena pengaruh media sosial yang kerap memberitakan tentang Lombok Backpacker. Lebih-lebih sejak Lombok Backpacker memiliki rumah singgah yang bisa diinapi oleh para backpacker.

Dulu, Travelicious Lombok saya proyeksikan bisa membantu menyukseskan program Visit Lombok Sumbawa 2012. Di era digital, khususnya media sosial saat ini, saya pun harus bisa dinamis. Maka, grup Lombok Backpacker itu wadahnya.

Lalu Abdul Fatah - Lombok Backpacker

Saya berterima kasih pada dua admin Lombok Backpacker, Mas Duta dan Mas Iyus, yang telah membantu saya menjaga konsistensi tujuan grup ini. Begitu pula pada para anggota yang aktif berpartisipasi di grup, berbagi informasi terbaru yang mereka punyai tentang wisata di Lombok, serta membantu menjaga grup agar terhindar dari sampah informasi yang tak relevan dengan tujuan awal grup, semisal: melaporkan jika ada anggota yang jualan trip atau promosi hal-hal yang tak sesuai sama grup.

Bahkan, ketika akhirnya Lombok Backpacker menjalankan misi sosial dan edukasi, misalnya, saya pikir itu sebuah pengembangan yang bagus. Dan, semangat itulah yang kami jaga. Kalau ternyata teman-teman backpacker terinspirasi membikin hal serupa di daerah asal mereka, bagi kami, itu sudah luar biasa. Saling menginspirasi dalam hal positif yang kontributif.

Dan, saya memilih jalur menulis untuk berkontribusi. Sebab, inilah kemampuan yang saya punyai. Apalagi tulisan memiliki jangkauan yang lebi luas daripada sekadar saya bicara dalam satu forum. Menulis juga cara yang ampuh untuk memengaruhi opini. Inilah yang coba saya terapkan.

Maka, saya pun mendorong anak-anak muda lainnya agar menulis tentang daerah mereka. Antardaerah saling mengetahui satu sama lain dan tertarik untuk saling mengunjungi. Ketika pengalaman nyata itu mereka peroleh dan membaginya lewat tulisan, misalnya, akan ada proses dialog. Dialog itulah yang kemudian memunculkan gagasan-gagasan baru yang sebisa mungkin diwujudkan dalam tindakan nyata.

lalu abdul fatah - belajar menulis

Dorongan untuk mengajak anak muda menulis itu, salah satunya saya mulai dengan menjadi pembimbing menulis di Indonesia Writing Edu Center, Surabaya. Saya juga membimbing klub jurnalistik di SD Al-Falah Surabaya serta ekstrakurikuler menulis di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum, Jombang. Tak lain karena saya mencita-citakan bangsa ini kian melek literasi. Budaya baca, tulis, diskusi, memaknai hal, lalu bertindak nyata nan solutif bisa terbangun. Sebab, Jepang sendiri maju bukan karena teknologinya, tapi karena masyarakat memilili tingkat literasi yang tinggi. Indonesia bagaimana? Bahu-membahu kita mewujudkannya.

Riwayat hidup saya bisa diunduh di: Curriculum Vitae – Lalu Abdul Fatah (Terbaru)

2 thoughts on “Profil

  1. Hai,, salam kenal dari Bandung nih…
    baca CV nya menarik banget dan penuh inspirasi… jadi ngiri wkwkwkw

    salam silaturahmi nih.. hehehe peace

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s